Kamis, 25 Desember 2014

Tentang Do'a Untuknya

Saya masih mendoakannya...
Entah karena saya sudah terbiasa menyisipkan namanya di barisan doa saya setelah sujud atau karena memang saya yang masih ingin mendoakannya. Bibir saya akan otomatis menyebut namanya dalam doa setelah saya mendoakan kedua orangtua serta keluarga saya.

Ketika mendoakannya, tangis saya jatuh lebih deras dari sebelumnya. Saya merasakan kemelut di hati saya saat teringat-ingat, terbayang-bayang, mengembalikan memori yang mungkin seharusnya sudah tak perlu saya simpan.

Apakah saya salah masih mendoakannya seperti ini?

Saya rasa tanpa doa saya ia juga tetap akan terjaga dan terlindung dengan untaian doa dari kedua orang tuanya. Doa saya mungkin hanyalah sebagian kecil. Sangat kecil. Lagipula saya bukan bagian dari hidupnya lagi sekarang.

Saya menerka, ini mungkin percuma. Mungkin ia tak melakukan hal yang sama, untuk saya. Mungkin ada yang lain yang ia perjuangkan di balik semuanya. Mungkin ia sedang berbahagia. Bersiap memulai sesuatu yang baru, yang mungkin tidak ada pada saya.

Ah, masa bodoh. Saya yakin tidak ada yang salah dari mendoakannya selagi itu doa yang baik. Tapi, saya juga harus tetap bisa melepaskan meski perlahan dan mungkin kelak harus mengganti doa saya dengan nama lain yang akan mengisi hidup saya sesuai rencana Allah. InsyaAllah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini